translate language

Kamis, 24 November 2011

KISAH IBLIS YANG MENANGIS SANGAT KENCANG

Al Imam Al-Qurthubi didalam “Al-Jami’ liahkam al-Qur’an”ketika Beliau menjelaskan tentang fadhilahnya atau keutamaan surat Al Fathihah yaitu salah satunya adalah beliau menceritakan tentang iblis, yang mana iblis tersebut pernah menangis, yang menangisnya itu sangat kejer/ keras ( menangis dengan betul2 menangis ), yaitu ada 2 hal yang menyebabkan iblis menangis sangat keras:

1. Yaitu ketika diturunkannya surah Al Fathihah, yang mana surat al Fathihah adalah paling afdholnya surat didalam AlQuran.

2. Yaitu ketika dimana dilahirkannya makhluk yang paling mulia diseluruh jagad raya khoirul anbiya’ walmursaliin yaitu Sayyidina Muhammad SAW. Kenapa bisa begitu? Karena berkat nabi Muhammad SAW orang yang awal mulanya sangat banyak dosanya kemudian orang tersebut mengikuti Rasulullah SAW dengan mengucapkan dua kalimat Syahadad ( ASYHADUAN LAAILAHA ILLAH WA ASYHADUANNA MUHAMMADAR RASULULLAH ) maka langsung habis dosanya, sebagai contoh pada saat di zaman Rasulullah SAW ada seorang yang sangat2 tua sekali yang mana umurnya berkisar 114 th, rambut dan alisnya sudah memutih, ia menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata :

Ya Muhammad ( ia menyebut demikian karena ia belum masuk islam ) apakah agamamu bisa menghapuskan dosa2 yang telah aku perbuat, yang mana dosaku sangat2 banyak sekali, seumpama dosanya orang berzina,orang mabuk dan berjudi diseluruh dunia ini dikumpulkan di bandingkan dengan dosa yang aku perbuat maka lebih banyak dosaku, kemudian aku datang kepada orang2 Nasrani bertanya apakah dosa2ku bisa diampuni? Orang2 Nasrani menjawab tidak bisa karena dosamu terlalu banyak, kemudian aku datangi pula orang2 Yahudi, kata mereka pun tidak bakal bisa, oleh karena itu aku datang kepadamu ingin menanyakan apakah bisa agamamu menghapuskan dosa-dosaku?

Lantas Rasulullah menjawabnya BISA.

Lantas orang tua itu mengatakan kalau begitu apa yang mesti saya perbuat/lakukan?
Kemudian Rasulullah SAW mengatakan yaitu ucapkanlah ASYHADUAN LAAILAHA ILLALLAH WA ANNY RASULULLAH ( aku bersaksi tiada Tuhan selain ALLAH dan aku adalah Rasul utusan ALLAH )

Kemudian orang tua tersebut mengucapkan ASYHADUAN LAAILAHA ILLALLAH WA ANNAKA RASULULLAH (aku bersaksi tiada Tuhan selain ALLAh dan Engkau (Nabi Muhammad) adalah Rasul utusan ALLAH

Kemudian pulanglah orang tua tersebut, dan setelah 3 hari terdengar kabar bahwa orang tersebut telah meninggal, lantas Rasulullah SAW mengucapkan bahwa orang tersebut termasuk golongan MIN AHLIL JANNAH (dari golongan yang masuk surga)
Dua hal tersebutlah yang membuat iblis menangis sangat keras, oleh karena itu sungguh beruntunglah kita-kita semua yang bisa merasakan / cinta dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA WA MAULANA MUHAMMAD”



Kutipan ceramah Habib Abdurrahman Assegaf

Senin, 03 Oktober 2011

Kajian ArRaudah Ramadhan 1432 H - Kajian ArRaudah Ramadhan 1432 H

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barokatuh

Alhamdulillahirobbil 'alamin wabihi nasta'inu 'ala umurid dunya waddin wa sholatu wassalamu 'ala asyrofil anbiya' wal mursalin sayyidina Muhammadin khotamanNabiyyin wa 'ala alihi wa shohbihi wasallim, robbisyrohli sodri wayassirli amri wahlul uqdatammillisani yafqohu qouli, amma ba'du

Syukur Alhamdulillah kita semua sampai saat ini masih dikaruniakan nikmat, terutama nikmat iman dan islam, nikmat kesehatan dan nikmat yang lainnya.

Berikut ini saya lampirkan kumpulan kajian Ramadhon kitab ArBa'in Nawawi bersama Al Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, untuk mendownloadnya silahkan kunjungi alamat berikut

1.http://www.4shared.com/audio/hkTcgz7g/Kajian_Ramadhan_Ke_-_01.html
2.http://www.4shared.com/audio/BXtLJaA-/Kajian_Ramadhan_Ke_-_02.html
3.http://www.4shared.com/audio/6cTDYZYX/Kajian_Ramadhan_Ke_-_03.html
4.http://www.4shared.com/audio/7h9b5JOZ/Kajian_Ramadhan_Ke_-_04.html
5.http://www.4shared.com/audio/ulpUi3rN/Kajian_Ramadhan_Ke_-_05.html
6.http://www.4shared.com/audio/BiwsnGO4/Kajian_Ramadhan_Ke_-_06.html
7.http://www.4shared.com/audio/NHomhWX2/Kajian_Ramadhan_Ke_-_07.html
8.http://www.4shared.com/audio/h40rAHSl/Kajian_Ramadhan_Ke_-_08.html
9.http://www.4shared.com/audio/wrJmBJ4R/Kajian_Ramadhan_Ke_-_09.html
10.http://www.4shared.com/audio/EORc36XI/Kajian_Ramadhan_Ke_-_10.html
11.http://www.4shared.com/audio/q6glnlbO/Kajian_Ramadhan_Ke_-_11.html
12.http://www.4shared.com/audio/vmzGnyf4/Kajian_Ramadhan_Ke_-_12.html
13.http://www.4shared.com/audio/jzdFqa94/Kajian_Ramadhan_Ke_-_13.html
14.http://www.4shared.com/audio/FDGkt3NP/Kajian_Ramadhan_Ke_-_14.html
15.http://www.4shared.com/audio/WEpwt7cP/Kajian_Ramadhan_Ke_-_15.html
16.http://www.4shared.com/audio/Rf5nalFK/Kajian_Ramadhan_Ke_-_16.html
17.http://www.4shared.com/audio/UtMUQxSU/Kajian_Ramadhan_Ke_-_17.html
18.http://www.4shared.com/audio/Ujk7Gvpm/Kajian_Ramadhan_Ke_-_18.html

atau klik disini

Semoga bermanfaat bagi kita semua, amiiiin

Kamis, 11 Agustus 2011




Sholli wasallim daa iman alah mada
Sholli wasallim daa iman alah mada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada

**************************************
**************************************

Eman lo wong Islam, ninggal Sholat wengi
Sak ben dalu turu, ora gelem tangi
Sholat wengi ngono, disenengi Gusti
Sopo gelem nyuwun, pasti di paringi



Sholat limang waktu, ayo podo njogo
Jama’ah nang masjid, bareng sak kluwargo
Ganjarane slawe, celengan suwargo
Malah biso dadi, pitu likur ugo

Yen Sholat kesusu, ora biso pernah
Rukuk lan sujude, ditoto sing genah
Sing khusyu’ lan khudhur, ugo tumakninah
Ngerteni sing wajib, lan ngerti sing sunah

Yen rumongso sugih, itungen donyone
Bagiane Zakat, ojo dilalekne
Dulur karo tonggo, sing podo miskine
kabeh podo nunggu, zakat bagiane

Yen karo tonggone, Sing apik atine
Yen kahanan longgar, mikiro butuhe
Sajak perlu utang, enggal di peringne
Nanging ojo nganti, njaluk anak ane

Ayo do ngurangi, nonton televisi
Timbang nonton TV, luweh becik ngaji
“Ahbaabul Musthofa” wadah kanggo ngaji
Kumpul poro Habaib lan poro Kyai

Eman lo wong ngaji, campur lanang wadon
Campur lanang wadon, lamun dudu mahrom
Biso biso malah, nglakoni sing harom
Ilmu gak manfa’at, rusak malah klakon

Lanang karo wadon, manggon sepi sepi
Nyanding senggal senggol koyok kebo sapi
Ngunu kuwi duso, nurut poro nabi
Ojo di terusno, yen durung di rabi

Minggu, 05 Juni 2011

MENGAIL REZEKI


Dalam sehari umat islam membaca surat Al fatihah minimum sehari 17 hari. dalam surat ini terdapat tata cara dan sopan santun untuk memohon kapada Allah, coba perhatikan :

"Dengan menyebut nama ALLAH yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,"
"Segala puji bagi ALLAh, Tuhan semesta alam,"
"Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,"
"Menguasai hari pembalasan,"
"hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan,"
"Tunjukilah kami jalan yang lurus,"
"Jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai,dan buka pula jalan mereka yang sesat."

( QS 1:1-7 )

Perhatikan bahwa surat itu dimulai dengan basmalah, lalu pujian-pujian, pernyataan tentang kebesaran ALLAH. ( dan kerendahan diri ),pernyataan akan mengabdi, setelah itu baru mengutarakan permohonan.

Memang begitulah yang harus dilakukan oleh seorang hamba : memberi dahulu , baru mengutarakan permintaan, bekerja dahulu baru kemudian gajian.

Perhatikan petani, sebelum memanen ia harus menanam benih dahulu, Perhatikan nelayan, sebelum memancing ikan, ia harus memberi umpan terlebih dahulu.

Ketika Siti Maryam baru melaihrkan Isa 'alaihissalam dan masih lemah, ia diperinntahkan oleh Allah untuk mengoyankan batang pohon kurma. Lalu berjatuhanlah kurma dari pohon. Tubuh yang lemah mustahil bisa meggetarkan baatang pohon yang besar. Namun demikianlah kehendak Allah, ia harus berusaha, dan Allah yang memberikan hasilnya.

Kalau setiap hari kita memeras otak untuk mendapatkan ini....mendapatkan itu...memperoleh ini....memperoleh itu...merebut ini... merebut itu...,maka kita akan merasa letih di badan dan pikiran, dan kita bisa terlibat dalam berbagai keruetan dan persoalan dengan orang laen. Namun kalau kita selalu berpikir untuk memberi ini...memberi itu...menghadiahkan ini...menghadiahkan itu...meminjamkan ini...meminjamkan itu...mengikhlaskan ini...mengikhlaskan itu..., maka besar harapan kita akan mendapatkan berbagai hal, dan menjalani hidup dengan senang dan mudah.

Catatan:
Urusan kita besar atau kecil, mudah atau sulit, bagi Allah sama saja, kalau Ia berkehendak untuk mengabulkna permintaan kita, maka akan terjadi. Tugas kita adalah berusaha, sukses atau gagal adalah urusan Allah. kita sama sekali tidak berhak mengatur dan tidak kuasa untuk menentukan hasilnya.

Kalau ingin mempunyai uang banyak, maka berikan sebagian uang anda kepada yang memerlukan. Bagaimana kalau kita sendiri dalam kesulitan keuangan? keluarkanlah sedikit dari yang sedikit itu!

Mutiara Qur''an, yang artinya :
"Dan apa saja harta yang baik yang kalian nafkahkan (dijalan Allah),maka balasannya adalah untuk kalian sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhoan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kalian nafkahkan, niscaya kalian akan diberi balasan dengan cukup, sedang kalian sedikitpun tidak akan di zalimi." (QS 2:272)

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS 3:133-134)

Mutiara hadist, yang artinya:

"Tak akan berkurang harta apabila disedekahkan." (HR Tirmizi dan Ahmad)

"Allah tabaraka wata'ala mewahyukan (dalam hadist kudsi) : "Hai anak adam, nafkahkanlah (hartamu),(nanti) Aku akan memberimu nafkah." (HR Muslim, dan Bukhori meriwayatkan sedikit berbeda)

Wallahu a'lam
disadur dari buku Bahagia Dunia-Akhirat lil Habib Husein Anis Habsyi

Kamis, 14 April 2011

Watak dasar Manusia

Pada umumnya manusia senang diperlakukan dengan baik, dan senang juga berbuat kebajikan. Oleh karena itu dikalangan bangsa manusia, kebajikan itu bersifat menular. Setiap orang senang mendengar berita orang-orang yang berbuat baik. dan berita itu sering membuat orang lain menaruh hormat,mencintai dan rindu ingin bertemu meskipun ia tidak mengenal mereka.



Setiap perokok pasti menginginkan untuk berhenti suatu saat nanti.Setiap pemabuk pasti pernah mengidamkan untuk menjauhi minuman memabukkan. Setiap penjudi yang menyadari hartanya sedikit demi sedikit ludes biasanya mengangankan kemenangan besar untuk kemudian berhenti. Kebanyakan perampok menyembunyikan perbuatannya dari keluarganya. ia tak mau perbuatannya itu di contoh oleh anaknya. Dan banyak diantara mereka membantu dan bersikap dermawan pada masyarakat di lingkungannya.



Kebajikan yang dibangun dalam diri manusia ini memang perlu dirawat agar mengakar kuat dan tumbuh kokoh. Ajaran agama, keluarga yang saleh dan pergaulan yang baik akan membantu perawatan tersebut. Tanpa itu kebajikan akan dengan mudah ditundukkan oleh perasaan iri hati, rayuan setan, desakan hawa nafsu dan godaan dunia.



Di zaman Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, ada seorang pemuda yang ingin meninggalkan semua maksiat tapi masih belum bisa. Lalu ia mendatangi Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam.

"Ya Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina," kata si pemuda.

Para sahabat datang dan mengejeknya dengan kata yang menyakitkan hati, namun Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mendekatlah"

Pemuda itu mendekat

"Duduklah" kata Beliau

Ia pun duduk.

"Apakah engkau suka ibumu berzina?"

"Tidak, demi Allah yang menjadikan aku sebagai tebusannya."

"Demikian pula orang -orang lain, mereka tidak menginginkan hal itu terjadi pada ibu mereka," kata Beliau.

"Sukakah engkau jika anakmu berzina?"

"Tidak, demi Allah yang menjadikan aku sebagai tebusannya."

"Demikian pula orang -orang lain, mereka tidak menginginkan hal itu terjadi pada anak mereka," jelas Beliau.

"Sukakah engkau jika saudara perempuanmu berzina?"

"Tidak, demi Allah yang menjadikan aku sebagai tebusannya."

"Demikian pula orang -orang lain, mereka tidak menginginkan hal itu terjadi pada saudara perempuan mereka," jelas Beliau.

"Sukakah engkau jika bibimu berzina?"

"Tidak, demi Allah yang menjadikan aku sebagai tebusannya."

"Demikian pula orang -orang lain, mereka tidak menginginkan hal itu terjadi pada bibi mereka," jelas Beliau.

Beliau lalu meletakkan tangan ditubuh pemuda itu mendoakannya: "Ya ALLAH ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya."

Sejak saat itu si pemuda tidak tergoda lagi untuk berzina ( HR Ahmad )

sumber : buku BAHAGIA DUNIA AKHIRAT
oleh Habib Husein Ali AlHabsyi

Minggu, 06 Februari 2011

indahnya kasih sayang yang tulus

sebuah kisah cinta dan kasih sayang yang sangat tulis, dan ini adalah nyata bukan sebuah fiksi cerita.. keindahan kasihsayang, cinta jika diberikan
dengan tulus tanpa pamrih, rasa itu takkan pernah padam dan mati…
dlihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya di isi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia empatorang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas sore dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yang dia alami kesehariannya.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.



Dengan kalimat yang cukup hati2 anak yang sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat Bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2 nya sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baiknya secara
bergantian.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak2 mereka. __ “Anak2ku jikalau pernikahan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian, sejenak kerongkongannya tersekat. kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat
menghargai dengan apapun.

Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang ini, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menja i nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri istrinya yang sudah tidak bisa apa2. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir distudio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya empat orang anak yang lucu2.

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dalam keadaan dia sakit seperti sekarang ini.

Semoga kita semua secara ber sama2 bisa merenungi dari cerita kisah nyata tersebut.

sumber : http://berita.disuka.com

Jumat, 04 Februari 2011

KEKUATAN DO'A

Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket.

Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang.

Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja.

Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar.

Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.

"Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut.

"Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,"alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi.

Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.

"Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu, Pak.

Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis.Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?"

"Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobekkertas kumal.

"Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan,dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.



"Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk,meletakkannya ke dalam timbangan.

Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.

Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat.

"Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.

Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak.

Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: "Ya Allah Ya Tuhanku Rabbi, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.

" Si Pemilik Toko terdiam.Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya.

Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya.

Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

Ternyata memang hanya ALLAH yang tahu bobot sebuah doa.

DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA.

Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna."

Kamis, 03 Februari 2011

Assalamu ‘alaikum wr. Wb
Pada zaman dahulu, kira-kira 200 tahun yang lalu pernah berkata seseorang yg bernama Ronggo Warsito.
Beliau adalah termasuk salah satu murid dari pada Wali Songo. Beliau pernah mengatakan bahwa nanti jikalau zaman nanti sudah ada kejadian ini, maka zaman tersebut bisa dikatakan zaman Edan. Yaitu ketika ada omongan dipencuk ( ucapan di bungkus ) dan banyu disunduk ( air ditusuk ).
Pada zaman dahulu orang-orang tidak ada yang tahu apa itu semua????, tapi apa yang terjadi ternyata hal tersebut sudah nampak sekarang!!! Maksud dari omongan dipencuk ( ucapan di bungkus ) yaitu kaset/ cd, semua suara atau bahkan gambar pun bisa kita simpan disana, dan juga banyu disunduk ( air ditusuk ) yaitu air yang dibekukan ( es batu )

Bisa kita lihat sekarang zaman sudah semakin tidak karuan banyak hal-hal yang tidak semestinya dilakukan malah di junjung, yang haram di kerjakn terang-terangan, dan masih banyak lagi.
Ya mau gimana lagi kita sudah masuk zaman ini, harus pintar-pintar dan pandai-pandai kita dalam segala hal, jangan sampai salah pilih dan menyimpang dari norma-norma yang ada, terutama norma-norma yang diajarkan oleh Agama.
Wassalamu ‘alaikum wr. Wb
Wallahu a’lam

Kamis, 27 Januari 2011

Larangan Berbicara Keras Melebihi Suara Nabi



Selain memerintahkan kita untuk memanggil Nabi dengan sebutan yang baik dan sopan, ALLAH juga mengancam mereka yang bersuara keras dihadapan Nabi SAW dengan ancaman yang sangat keras. aLLah mewahyukan yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman , janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari." (AlHujurat, 49:2)



Dalam ayat diatas ALLAH memanggil orang-orang yang beriman dan memperingatkan mererka bahwa pahla amal saleh yang selama ini mereka amalkan bisa hancur dan musnah dalam sekejap jika mereka bersuara yang lebih keras lebih keras dari suara Nabi ketika berbicara di hadapan Beliau SAW.



Tsabit Bin Qais ra adalah juru ceramah kaum Anshar. Dia memiliki suara yang keras. Ketika ayat ini turun, ia menghilang dan tidak berani menemui Rasulullah SAW. Ketidak hadiran tsabit bin Qais menaik perhatian Beliau SAW. Rasulullah SAW berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz ra : "Hai Abu 'Amr, apa yang terjadi pada Tsabit, apakah ia sakit?" , "Setahu saya ia tidak pernah mengeluh sakit," jawab sa'ad.



Sa'ad kemudian mencari Tsabit bin Qais ra, dan ternyata ia sedang duduk termenung dirumahnya dengan kepala tertunduk dan air mata berderai sambil berkata : "Aku penghuni neraka"

"Apa yang terjadi pada dirimu?" tanya Sa'ad

"Kaliankan tahu diantara kalian semua,ketika berbicara dihadapan Rasul, suara saya adalah yang paling keras. Bukankah ALLAH telah mewahyukan, yang artinya :

"Hai orang -orang yang beriman , janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagainya kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. ( Al Hujurat 49:2)



Nah akulah penghuni neraka," jawab Tsabit dengan air mata berlinang.

Sa'ad kemudian kembali menemui Rasulullah SAW daan menceritakan keadaan Tsabit. Setelah mendengar cerita Sa'ad, Rasulullah SAW bersabda : "Pergi temui dia dan katakan kepadanya bahwa dia bukan calon penghuni neraka, tetapi dia adalah calon penghuni surga."



Lihatlah, rasa takut yang bersemayam dalam hati seorang sahabat lantaran dia merasa sering berbicara dengan suara keras ketika dihadapan Nabi, padahal itu dia lakukan bukan karena ingin bersuara lebih keras dari suara Nabi, tetapi memang karena ia memiliki suara yang keras.



Lihatlah bagaimana ALLAH memuliakan Nabi SAW , bersuara keras dihadapan Beliau SAW saja dapat menyebabkan amal shaleh yang telah bertahun-tahun dikerjakan, seperti sholat, puasa, zakat dan segala ibadah lainnya musnah dalam sekejap.



Semoga sedikit kisah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan semakin bertambah rasa cinta dan sayang kita kepada Nabi Muhammad SAW. amiin yaa Rabbal 'Alamin

disadur dar buku "Mana Dalilnya 2" oleh Habib Novel bin Muhammad Alaydrus

Jumat, 14 Januari 2011

Habib Ahmad Jamal Bin Toha Baagil


Setiap habib atau ulama pasti memiliki amalan bacaan atau wirid, begitu juga dg habib. Jamal. “Saya paling senang mengamalkan Shalawat Nur, yg digubah Habib Umar bin Hafidz, guru saya,” ujarnya….
Dia membaca Shalawat Nur sebanyak 10 kali pada usai waktu shalat wajib, dan begitu juga ketika malam menjelang tidur.

Dalam mengamalkan bacaan Shalawat itu, Habib Jamal merasakan ketenangan bathin. Pikiran yg semula ruwet menjadi terang. Dan karena Shalawat ini sudah dinyatakan Habib Umar sebagai amalan yg bisa dilaksanakan semua orang, ia sudah memberikan ijazah ammah, setiap orang boleh mengamalkannya.

Selain itu fadhilah lain membaca Shalawat ini adalah selalu mempunyai ikatan dan hubungan erat dengan Rasulullah SAW.

Inilah bacaan Shalawat Nur :
اللهم صل على سيدنا محمد نورك الساري ومددك الجاري
واجمعني به في كل أطواري وعلى اله وصحبه وسلم يا نور


“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”

Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”

Dikutip dari di majalah Alkisah no. 13/28 JUNI – 11 JULI 2010
Sumber: arroudloh

Situs AlHabib Jamal : http://www.habibjamal.com

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih


Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian
ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut,
pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya,
salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu
Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani
menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar
diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad
mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku
dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul
Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu,
putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam
dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah
(tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat
cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang
yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi
kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu,
demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan
diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami
dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun,
Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba
dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah
salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun
pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin
Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin
Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir
Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib,
Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah
mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah,
pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba
pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab,
menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan
dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat
mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah
An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan
berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah
di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap
kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam
lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat
sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan
Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal
12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan
Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN
Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam,
serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang
hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di
samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung
langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar
periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat
mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan,
Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan
ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad
Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat
Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu
disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62
tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”…
Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal
Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir
kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang,
ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.
Wallahu a'lam.

HABIB HADI ALKAFF


Bertakhaluq Dengan Syeikh

Meskipun seorang gurunya (syeikh) telah meninggal, tetapi sang murid tetap mempunyai hubungan bathin. Dengan bertakhaluq(berpegangan) kepada guru-gurunya, Habib Hadi senantiasa dibimbing untuk mensyiarkan dakwah

Setiap Ahad, ratusan kyai dan ustadz dari berbagai pelosok daerah Malang mengikuti pengajian rutin di majelis Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja) di Jl Kayu Tangan, dekat alun-alun Kota Malang yang diasuh oleh KH Abdullah Iskandar. Pengajian ini di belakang hari banyak dipimpin Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff, karena KH Abdullah Iskandar sudah sepuh.
Habib Hadi adalah guru dan ustadz tempat bertanya yang cukup terkenal sebagai mubalig pada berbagai pengajian di Malang dan sekitarnya. Sosoknya hangat, dan enak diajak bicara tentang banyak hal. Bicaranya pelan, tapi teratur.
Hari-hari Habib Hadi juga diisi dengan mengisi pengajian dari kampung ke kampung di berbagai pelosok Kota Malang dan sekitarnya. Metode pengajiannya bukan hanya ceramah, tapi juga dialog. Seperti halnya kebanyakan ulama dan mubalig, masa kecil Habib Hadi sangat ketat dalam pendidikan agama. “Saya tidak pernah mengaji di pesantren. Ilmu agama saya peroleh berkat bimbingan langsung dari ayah dan ibu saya,” katanya lagi.
Dari dahulu sampai sekarang Habib Hadi dalam berdakwah juga tidak membeda-bedakan madzab dan medan dakwah. Ia berdakwah di berbagai kalangan. Bahkan di tempat Al-Irsyad di Bondowoso juga ia mengajar, karena merasa cocok dengan metode belajar yang disampaikan Habib Hadi. ”Saya mendapat dukungan oleh Ustadz Hasan Baharun (Bondowoso).”
Lahir di Malang, pada 29 Juni 1947, ia putra Habib Alwi bin Hasan Al-Kaff ke-16 dari 31 bersaudara. Ibundanya, bernama Syarifah Futum, putri dari Habib Abdurahman bin Ali bin Syekh Abubakar bin Salim. Jadi Habib Hadi masih termasuk cucu dari Habib Abdurahman bin Syekh Abubakar, seorang ulama yang terkenal sebagai ulama yang saleh dan perintis gerakan dakwah ke desa-desa sekitar Malang. Gerakan dakwah Habib Abdurahman ini dilanjutkan oleh menantu cucu beliau, Ustadz Habib Alwi bin Salim Alaydrus.
Habib Hadi mengenyam pendidikan Madrasah di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang yang diasuh oleh Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih dari tahun 1953 sampai tahun 1967. Habib Hadi sebenarnya punya kesempatan untuk belajar di Madinah (Saudi) namun, karena Pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu melarang pelajar Indonesia untuk berangkat ke Saudi, kecuali yang mempergunakan beasiswa pemerintah.
Akhirnya ia mengaji ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) selama kurang lebih dua tahun (1967-1969) secara private kepada Habib Abdurahman bin Muhammad Mauladawilah di rumahnya, di samping masjid Al-Huda, Malang setiap usai shalat Subuh. Kitab yang diajarkan pada waktu itu adalah Jumriyah, Syarh Ibn Dahlan, Kafrowy dan Kawakib.
Selain belajar pada Habib Abdurahman, pada tahun itu juga Habib Hadi belajar secara private kepada Habib Alwi bin Salim Alaydrus. Habib Hadi mengaku sangat terkesan dengan metode mengajar dari Habib Alwi, “Beliau adalah seorang guru yang alim, luas, tawadhu’ lagi bijaksana. Pernah beliau mendengar ada yang mengatakan bahwa, ’Hadi Al-Kaff tidak punya Syeikh (guru pembimbing)’. Beliau spontan marah seraya berkata,’Katakan pada mereka bahwa,’saya adalah Syeikh dari Habib Hadi’.
Mendengar pengakuan dari Habib Alwi bin Salim Alaydrus, Habib Hadi bin Alwi Al-Kaff sangat gembira atas pernyataan tersebut. Ustadz Alwi juga berpesan kepada Habib Hadi untuk lebih memantapkan hatinya, ”Kalau kamu takhaluq (berpegangan dengan guru, biasanya seorang syekh) ini insya allah, kamu akan dibimbing. Meskipun seorang guru (syeikh) itu telah meninggal. Jadi seorang murid tetap punya hubungan bathin.”
Setelah gagal berangkat ke Saudi, Habib Hadi kemudian menyibukan diri bekerja membantu ayandanya ke Lombok (Nusa Tenggara Barat) sampai tahun 1974. Baru pada tahun 1975 ia berangkat ke Saudi dengan diantar langsung oleh Habib Muhammad bin Ahmad Alaydrus di Madinah. Sayang, saat itu tahun ajaran baru sudah dimulai. Ia akhirnya disuruh menunggu beberapa bulan sampai menunggu tahun ajaran baru. Habib Hadi akhirnya belajar bahasa Inggris di American School. Karena kesibukan kerja antara 1976-1979, akhirnya Habib Hadi tidak sampai berfikir lagi untuk menuntut ilmu di Madinah.
Pada tahun 1979 ia pindah ke Khobar, di kota yang terletak belahan utara Mekkah itu ia mengumpulkan jama’ah dari pekerja-pekerja yang dari Indonesia untuk belajar agama dan sesekali rutin membaca maulid. “Alhamdulilah, sembari bekerja juga bisa belajar sendiri dan juga mendatangi pengajian,”
Selama di Saudi, ia belajar sendiri dengan bertakhaluq kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, Habib Alwi bin Salim Alaydrus dan Habib Abdurrahman bin Muhammad Mauladawilah. Sekalipun belajar sendiri, Habib Hadi juga terkadang menghadiri acara-acara keagamaan yang digelar di Saudi, seperti peringatan maulid, Khataman Bukhari, silaturahmi halal bi halal dan lain-lain.
Pada tahun 1992, ia mau pulang ke Indonesia. Saat itu tanggal 27 Ramadhan ada khatam Bukhari di Masjid Nabawiy, datang para Habaib dari sekitar Saudi. Selepas shalat Ashar ada pengajian Habib Soleh Al-Muhdor. Acara ini tergolong acara yang beasr karena banyak dihadiri ulama-ulama besar seperti Syekh Abdul Qadir bin Ahmad, Sayid Maliki, Habib Zein bin Smith dan dari luar Saudi pun banyak yang hadir.
Kebetulan saat itu Habib Hadi datang bersama salah satu teman akrabnya yakni Habib Hasan bin Abdullah Som Assegaff. Habib Hasan sudah lama tinggal Saudi, sehingga ia banyak mengenalkan Habib Hadi dengan para Habaib yang hadir selepas shalat Magrib. Salah satu diantaranya adalah berkenalan dengan Habib Alwi Bilfagih (pengarang kitab-kitab sejarah dan nasab).
Saat itu Habib Alwi saat itu juga sedang mengajar kepada murid-muridnya dan juga ada seorang tua yang sedang menulis. Habib Hasan Som kemudian mengenalkannya kepada Habib Alwi Bilfagih, ”Ini Hadi Al-Kaff dari Malang.”
Kemudian Habib Alwi menyalami Habib Hadi. “Kenal Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih dari Malang?” tanya Habib Alwi kepada Habib Hadi.
“Itu adalah guru saya,” kata Habib Hadi.
“Syeikhi? (gurumu)?” tanyanya dengan penuh keterkejutan.
“Saya adalah murid dari Syeikh Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih,” kata Habib Hadi kepada Habib Alwi.
“Tunggu dulu,” kata Habib Alwi terburu-buru kepada Habib Hadi dan Habib Hasan untuk jangan beranjak dari majelis, karena ia akan menyelesaikan urusan dengan orang tua yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.
Tidak berapa lama kemudian, Habib Alwi kembali lagi dan kemudian berkata kalau Habib Abdul Qadir adalah saudara dekatnya. “Itu adalah saudara ayah saya, tapi saya belum jumpa,” katanya.
Kemudian Habib Alwi memaksa tangan Habib Hadi, ”Mana tanganmu?”
Lalu Habib Hadi karena dipaksa kemudian memberikan tangannya untuk dicium oleh Habib Alwi. Artinya, Habib Alwi sangat menghormati Habib Abdul Qadir sampai sedemikian rupa, sampai-sampai salah satu muridnya yang pernah pernah belajar kepada Habib Abdul Qadir pun diciumnya.
Sampai di hotel, Habib Hadi bertanya pada Habib Hasan Som,”Tadi, orang tua yang bertubuh kurus dan duduk di majelis Habib Alwi itu siapa?”
“Itu adalah Habib Zein bin Smith (Medinah),” kata Habib Hasan Som.
Habib Hadi tentu terkejut, karena Habib Zein bin Smith ternyata sedang belajar kepada Habib Alwi Al-Kaff yang baru ditemuinya.
Setelah hari kedua lebaran, para habaib mengadakan silaturahim di hotel Haramain. Setelah acara, Habib Hasan Som mengenalkan lagi Habib Hadi pada yang hadir, termasuk kepada Habib Zein bin Smith. “Ini Habib Hadi Al-Kaff, tholib ilm’,” kata Habib Hasan.
“Di mana kamu belajar?” tanya Habib Zein bin Smith kepada Habi Hadi Al-Kaff.
“Saya tidak belajar. Saya bekerja di Khobar,” jawab Habib Hadi.
Habib Hasan Som berkata lagi, ”Dia belajar sendiri di rumahnya.”
“Tidak boleh. Kalau belajar agama tidak bisa belajar sendiri kecuali dengan belajar kepada syeikh (untuk membimbing). Kalau kamu belajar ilmu umum, seperti bumi, sejarah, kamu bisa belajar sendiri,” kata Habib Zein.
Habib Hadi terdiam, tapi Habib Hasan Som berkata lagi kepada Habib Zein,”Ya Habib, ia dulu pernah belajar pada Habib Abdul Qadir Bilfagih.”
“Benar?” tanya Habib Zein.
“Ya Habib,” jawab Habib Hadi.
Habib Zein kemudian tertunduk sebentar, tidak langsung jawab. Kemudian ia berkata, ”Karena kamu sudah pernah belajar pada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih. Kamu boleh belajar sendiri,” kata Habib Zein kepada Habib Hadi.
Setelah mendapat bisayarah (isyarat kabar gembira) dari seorang alim. Habib Hadi semakin yakin, kalau selama ini dengan belajar sendiri mempelajari kitab-kitab salaf yang ada di sana masih dalam koridor bimbingan dari guru-gurunya, walaupun guru-gurunya itu telah lama wafat.
Setelah menetap lama di negeri Saudi, pada tahun 1992 ia pulang ke Indonesia. Saat itu ia tinggal di Jl Lontar Atas, Jakarta, sambil berdagang Habib Hadi juga berdakwah dari masjid ke masjid dan taklim di sekitar rumahnya selama kurang lebih lima tahun.
Pada tahun 1997, ia kemudian dipanggil sang mertua, Habib Ali bin Umar Baharun di Bondowoso untuk mengelola majelis taklim. Ia kemudian mengajar sekitar 4 tahun, beliau meninggal. Pada tahun 2002, ia berfikir untuk kembali ke Jakarta. Tapi saat singgah di Malang, Habib Hadi bertemu dengan Habib Muhammad bin Agil Ba’Agil pemimpin majelis taklim Al-Hidayah (Malang).
“Kebetulan kamu datang, sekarang saya serahkan majelis taklim ini kepada kamu,” kata Habib Muhammad.
“Ya, Habib. Sekarang saya di Bondowoso,” kata Habib Hadi.
“Kamu pindah ke Malang,” perintah Habib Muhammad.
Karena teman akrab, satu kelas di Darul Hadits akhirnya Habib Hadi mulai tahun 2002 mulai tinggal di Malang pengasuh Majelis Taklim Al-Hidayah. Majelis Taklim Al-Hidayah sendiri diketuai oleh Habib Agil bin Agil Ba’agil, Habib Ali Haidar Al-Hamid.
Habib Hadi di Kota Apel itu juga mengasuh Majelis Taklim Al-Mukhlisin tiap malam minggu ba’da Magrib (ibu-ibu) dan selepas Isya (untuk bapak-bapak). Acara berlanjut selepas Subuh. Ia juga masih mengajar tafsir Jalalain dan An-Nashoih Diniyah di Madrasah yang didirikan oleh Ustadz Alwi bin Salim Alaydrus di Bumiayu (Malang) seminggu tiga kali; Sabtu, Senin dan minggu. Selain itu ia mengajar di masjid-masjid di sekitar Malang.
Ia sebenarnya sering diminta mengajar di Pesantren Darul Lughah Wa’Da’wah (Bangil, Pasuruan) dan Darut Tauhid, tapi selama ini masih sangat berat. “Soalnya, waktunya pagi. Itu berat sekali, karena kalau malam sudah habis untuk berdakwah sehingga jarang tidur,” kata Habib Hadi.
Ia juga sering diminta oleh teman-temannya untuk menterjemahkan Shahih Sifatu Sholatul Rasulullah SAW Mina Takbir Wa Taslim Ka’anaka Tanduru ilaya (sifat shalat Rasulullah SAW sejak takbir hingga salam seolah-olah kamu menyaksikan sendiri) karangan Habib Hasan bin Ali Assegaff (Yordania). Sudah banyak orang meminta untuk menterjemahkan kitab yang sering dibawakannya. ”Insya Allah, kalau ada waktu tepat akan segera diterbitkan,” katanya.

HABIB BAGIR BIN SHOLEH MAULADAWILAH


Pelopor Hadrah Basaudan di Malang

Di Majelis Taklim Riyadus Shalihin, Malang, tiap Selasa pagi dibacakan hadrah Basaudan.

Tiap Selasa pagi, mulai pukul 05.30-07.00, Majelis Taklim Riyadus Shalihin, di Jln. Kapten Piere Tendean Gg. 3 No. 4-5, Malang, Jawa Timur, ramai oleh ratusan jamaah, yang mayoritas berpakaian putih-putih. Mereka dengan khusyu’ memanjatkan doa bersama, dituntun oleh Habib Muhammad Al-Bagir bin Soleh Maulad Dawilah, pengasuh Majelis Taklim tersebut, dan membaca hadrah Basaudan. Jamaah yang tidak mendapat tempat duduk di ruang majelis taklim yang berukuran 20 x 10 meter itu rela duduk di karton kardus sepanjang gang sempit.

Tradisi pembacaan rangkaian Istighatsah dan doa karangan Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan ini baru dimulai sekitar tahun 2003. Hadrah Basaudan sendiri merupakan bacaan istighatsah masyarakat di Hadramaut. Habib Muhammad Al-Bagir Basaudan membuka secara resmi dan menyelenggarakan pembacaan Istighatsah dari rangkaian doa hadrah Basaudan ini secara berjamaah setelah mendapat ijazah dari Habib Ali bin Muhammad bin Salim bin Hafidz (Hadramaut) tahun 1423 H ketika datang ke Malang.

Awalnya, ia menyelenggarakan Istighatsah tiap Selasa sore, namun kemudian diganti menjadi pagi, karena melihat kondisi jamaah yang kalau sore hari sudah tampak loyo. “Jadi kita menggantinya pada Selasa pagi, dengan harapan jamaah mudah menerima pelajaran, karena pikiran masih segar,” tutur pria 73 tahun ini.

Di Majelis Taklim Riyadus Shalihin ini juga diajarkan pelajaran-pelajaran agama, seperti fiqih, tasawuf, hadits, aqidah, dan akhlaq. Selepas itu, pengajian taklim diisi oleh sang istri, mulai dari fiqih perempuan, tasawuf, hingga aqidah. Kitab-kitab yang diajarkan adalah Bidayatul Hidayah, An Nashoih Dinniyah, Sabilul Iftikaf, Muhawanah (tasawuf), Safinah Najah, Muqadamatul Hadramiyah, Taqrib (fiqih), dan lain-lain. Namun sekarang, khusus untuk kaum muslimah, setiap jam 09.00-12.00 diajarkan satu kitab pokok, yakni Riyadus Shalihin.

Selain itu, pada hari-hari tertentu juga diajarkan materi pelajaran yang beragam. Semua mata pelajaran dan ustadz yang mengajar telah terjadwal secara rutin tiap hari. Salah seorang ustadz yang mengajar di majelis taklim ini adalah Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, yang mengajar tiap Ahad pagi.

Menurut Habib Muhammad Al-Bagir, ia mengenyam pendidikan agama mulai dari pendidikan dasar di Pondok Darul Nasihin, yang dipimpin oleh Habib Muhammad bin Husein Baabud (Lawang, Malang), tahun 1940-an, dan kemudian memperdalam lagi dengan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih (Darul Hadits, Malang) tahun 1943. Selepas itu ia meneruskan belajar dengan Habib Alwi bin Salim Alaydrus (Malang) dan mendampinginya berdakwah keliling sampai ke pelosok-pelosok Malang.

Setelah Habib Alwi bin Salim Alaydrus wafat sekitar 1998, ia mulai membuka majelis taklim khusus kaum perempuan. Waktu itu materi yang diajarkan mulai dari pelajaran fiqih, tauhid dan tasawuf, akhlaq, dan lain-lain. “Kebetulan juga nama ayah saya Soleh, dan asal kita berjuang ini dimulai Riyadus Salehah (perempuan). Namun sempat terhenti. Setelah diganti menjadi Riyadus Shalihin dan bisa dipadukan lagi dengan kaum perempuan, sekarang bisa berkembang lebih maju lagi,” kata Habib Muhammad.

Walau majelis ini untuk kaum laki-laki dan perempuan, metode pendidikannya tetap dipisah. Kaum laki-laki diajar tersendiri oleh dewan ustadz, dan kaum perempuan oleh ustadzah.

Majelis Taklim Riyadus Shalihin diharapkan bisa berperan menggerakkan dakwah ke daerah-daerah terpencil. Sebab ustadz dan ustadzah sering diminta mengajar ke pelosok desa di Malang dan sekitarnya.

HABIB ALWY BIN SALIM ALAYDRUS


Lautan Hikmah Sang Arif yang merakyat Al ‘Allamah Al Wari’ Al Habib Alwy bin Salim bin Ahmad Alaydrus lahir di kota Malang Jawa Timur dari pasangan Habib Salim bin Ahmad Alaydrus dengan Hababah Fathimah. Tak heran jika kelak Habib Alwy menjadi ulama’ besar yang sarat dengan kharisma. Disamping berkah kewara’-an kedua orang tuanya, beliau sendiri, juga karena memang ibunda beliau pernah mendapat bisyaroh (kabar gembira) di kala mengandungnya.

Sejak kecil Habib Alwy telah menunjukan kecintaan dan kepeduliannya terhadap ilmu. Menuntut ilmu beliau geluti tanpa mengenal lelah. “Tiada Hari Tanpa Belajar”, demikianlah mungkin motto beliau semasa muda. Kapan dan di manapun beliau senantiasa belajar. Begitu penting ilmu di mata Habib Alwy, hingga sampai akhir hayatpun beliau senantiasa setia merangkulnya.

Dan sering Habib Alwy ketika keluar kemanapun entah itu ketika berdakwah atau sekedar berkunjung ke ibunya dan saudara2nya,beliau pasti membawa kitab yang sesekali diwaktu senggang akan di buka dan di baca.pernah saya (penulis)bertanya kepada beliau yang intinya buat apa selalu belajar dan sampai kapan? kan bisa berdoa supaya dapat ilmu laddunni (ilmu tanpa belajar),beliau menjawab bahwa para aslafuna solihin tidak mau mendapatkan ilmu dengan mengandalkan ladunni tadi,mereka lebih suka mendapatkan ilmu dengan berusaha keras.

Dalam perjalanan pendidikan beliau, Habib Alwy lebih banyak belajar kepada Al ‘Allamah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Seorang ulama terkemuka yang mendapatkan sanjungan dari salah seorang maha gurunya Al Habib Alwy bin Abdulloh bin Syihab, _”Wabilfagiihi fil fighi kal adzro’i, wa fittashowwufi wal adabi muttasi’i”. Marga bilfagih (Habib Abdul Qodir) dalam bidang fiqih bagai Imam Adzro’i, Dan dalam ilmu tasawuf serta kesusastraan bak lautan yang tak bertepi.

Habib Alwy adalah figur yang akrab dengan akhlaqul karimah. Apabila bertemu dengan muslim, beliau senantiasa menebar salam lebih dahulu. Dengan siapapun beliau selalu berkomunikasi dengan tutur kata yang halus dan sopan, bahkan sering kali tutur katanya membuat hati yang mendengarkan menjadi tenang. Sikap yang lemah lembut dan rendah hati senantiasa menghiasi hari-harinya. Tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai Bapak anak yatim, kasih sayang dan kepedulian kepada mereka sangat kental dengan pribadi Habib Alwy.

Bahkan kepada anak yang masih kecil pun beliau akan menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukannya tanpa merasa risih sekalipun.pernah satu kali ketika saya(penulis) masih kecil,datang kepada beliau di kediamannya di tanjung seorang anak yang masih smp.dan si anak tsb mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau yang di jawab dengan semangat oleh beliau,hingga larut malam dan saya(penulis)waktu itu digendong beliau untuk ditidurkan,akhirnya beliau meminta maaf kepada sang anak tsb untuk menidurkan saya.perbuatan Habib Alwy tsb membawa pengaruh besar pada sang tamu hingga sang tamu tsb menjadi salah satu ulama terkenal di wilayah malang saat ini.

Keluhuran akhlaq dan keluasan ilmunya mampu melunakkan hati semua orang, kafir sekalipun. Suatu saat ada seorang non-muslim keturunan Tionghoa bertandang di kediaman beliau guna mendiskusikan ajaran agama islam. Dengan ramah dan senang hati Habib Alwy menemuinya dan mengajaknya berkomunikasi dengan tutur kata dan akhlaq yang luhur. Mendengarkan penjelasan dan petuah-petuahnya orang tersebut tercengang dan terkesima.Tidak lama kemudian ia memantapkan hati menyatakan diri memeluk agama islam.

Dalam urusan mengajar dan berdakwah Habib Alwy senantiasa berada di barisan terdepan. Sakit, hujan ataupun sedikitnya yang hadir dalam majlis beliau, semuanya tak mengurangi sedikitpun semangat bahkan keikhlasannya dalam mengajar dan berdakwah. Suatu ketika Habib Alwy mengajar di desa Gondanglegi Malang. Dalam perjalanan menuju desa tersebut hujan turun sangat lebat. Melihat kondisi demikian, salah seorang murid beliau yang menyertainya ketika itu mengusulkan agar majlis tersebut ditunda. Namun tidak demikian dengan Habib Alwy, karena beban dan tanggung jawab sebagai pengemban risalah nabawiyah, beliau tetap konsisten. Ironisnya, ketika sampai di tempat, ternyata yang hadir saat itu hanya segelintir manusia. Meskipun demikian Habib Alwy tak patah semangat.bah kan mengajar seolah olah murid yang hadir ribuan.perbuatan beliau seperti di wasiatkan kepada salah satu muridnya,beliau mengatakan : kalau menghadiri majlis, jangan bedakan yang hadir 1 orang atau 1000 orang.

Bagi Habib Alwy, apalah artinya semangat jika tanpa disertai keikhlasan. Pernah Habib Alwy diundang ceramah di wilayah Sukorejo. Beliau berangkat tidak dijemput dengan mobil mewah layaknya para muballigh lainnya. Tapi beliau hanya dijemput oleh salah seorang utusan panitia. Nanum, dengan landasan ikhlas yang tinggi dan ditopang semangat juang yang gigih, beliau berangkat ke Sukorejo hanya dengan mengendarai oplet, demi misi syiar islam.
Kesederhanaan memang tersirat dalam diri Habib Alwy. Memang untuk urusan mengajar beliau bukan tipe ulama yang perhitungan. Di mana dan kapanpun selagi tidak ada udzur syar’i. Siapapun orangnya yang meminta sampai harus naik apa, beliau bersedia hadir. Tidak jarang beliau diundang oleh orang miskin, di pelosok desa yang penuh rintangan, naik dokar sekalipun Habib Alwy menyanggupinya.

Hampir setiap sore terutama hari Rabu Habib Alwy memberikan pengajian di masjid Jami’ Malang. Diawal awal pengajian beliau di masjid jami`,Takmir masjid tidak menyediakan mobil jemputan untuk Habib Alwy. Untuk itu beliau rela pulang pergi dari rumah ke masjid dengan naik becak.

Da’wah Habib Alwy melegenda ke segenap lapisan masyarakat. Mereka mengenal sosok Habib Alwy sebagai ulama’ yang memiliki kepribadian yang santun dan bersahaja. Maka tak heran jika beliau memiliki pengaruh kuat yang membuahkan hasil perubahan dan peningkatan. Keberaniannya dalam menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil mampu menembus dinding baja ruang kerja para pejabat pemerintah. Ketika ada di antara mereka yang bertindak semau gue tanpa mengindahkan syariat agama islam, beliau tidak segan-segan menegurnya.

Demi misi dakwah, Habib Alwy sanggup merelakan segalanya. Dalam hidupnya beliau tidak ingin merepotkan siapapun. Lebih-lebih ketika berdakwah di pedesaan, beliau membawa makanan sendiri dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Hampir setiap hari, dalam pengajian yang beliau gelar di kediamannya, Habib Alwy menjamu para santrinya. Belum lagi ketika beliau mengadakan pengajian secara mendadak, maka beliau tidak segan-segan untuk merogoh koceknya sendiri demi langgengnya dakwah islamiyah. Begitu ramah dan supelnya Habib Alwy, sehingga tukang becak atau pengemis sekalipun tidak merasa sungkan bertamu kepada beliau. Lebih heran lagi, Habib Alwy tidak pernah membeda-bedakan tamunya, ini pejabat, ini tukang becak dan sebagainya. Beliau menghormati semua tamunya dengan pelayanan yang proporsional. Sebagai tuan rumah beliau tidak segan-segan mengeluarkan sendiri hidangan untuk tamunya.

Suatu ketika ada seorang pengemis bertamu kepada Habib Alwy. Kala itu beliau sedang istirahat siang sementara beberapa santrinya berjaga-jaga di serambi rumah beliau. Rupanya sang pengemis tersebut bersikeras ingin bertemu sang Habib sekalipun para santri tidak mengizinkannya. Namun akhirnya pun sang pengemis angkat kaki dari rumah Habib Alwy membawa kekecewaan yang mendalam. Rupanya Habib Alwy mengetahuinya. “Tadi ada tamu pengemis ya?”, tanya Habib Alwy kepada santrinya. “Iya Bib, tapi habib sedang istirahat”, jawab salah seorang santrinya. “Kenapa tidak membangunkan saya? Iya kalau yang datang tadi pengemis betulan, kalau ternyata Nabiyulloh Khidir as?”, tegas Habib Alwy.

Maka berkat akhlaqul karimah, sabar, ikhlas istiqomah serta berbagai mujahadah yang beliau telateni salama ini, semasa hidup Habib Alwy sudah menerima bisyaroh dari Al Imam Syafi’i ra berupa dua jaminan dari beliau. Yang pertama di dunia dan yang kedua untuk yang kedua (akherat). Bahkan semasa hidupnya pula Habib Alwy pernah bertemu dengan datuknya Rosululloh SAW secara yaqodzoh (terjaga/bangun) sebanyak 35 kali.

Habib Alwy meninggal pada tahun 1995 M dan dimakamkan di pemakaman Kasin Malang di sebelah utara kubah maha gurunya Al ‘Arif billah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.

HABIB SHOLEH BIN AHMAD ALAYDRUS


Beliau adalah Ad Da'i ilallah Al Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, salah seorang ulama kharismatik yang disegani di Malang. Beliau lahir di Malang pada 21 Juli 1953.

Pendidikan dasarnya diperoleh di Madrasah Ibtidaiyah At-Taraqqie, Malang, yang pada saat itu dikelola pamannya sendiri, Al Ustadz Al Habib Alwi bin Salim Al-Aydrus.
Selesai dari Madrasah Ibtidaiyyah, beliau melanjutkan pendidikan Tsanawiyah di Ponpes Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Di pondok pesantren ini, beliau belajar dasar-dasar ilmu hadits langsung dari Al Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih yang di kemudian hari menjadi mertuanya.

Selepas dari Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah, sekitar tahun 1977, Al Habib Sholeh Bin Ahmad Al Aydrus mendapat tawaran beasiswa dari negeri Yordania dan Libya. Namun putra (alm.) Al Habib Ahmad Bin Salim Al Aydrus ini tidak menerima tawaran beasiswa tadi. Beliau justru memutuskan berangkat ke Makkah Al Mukarramah untuk berguru kepada As Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

Ihwal dipilihnya Makkah sebagai tempat tholabul 'ilmi (menuntut ilmu) tidak terlepas dari isyarah dari Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid (Tanggul) yang menyuruh Al Habib Sholeh pergi ke Makkah Al Mukarromah. "Tuntutlah ilmu ke Habibmu di Madinah Al Munawarrah," kata Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid kepada beliau yang masih ada ikatan keluarga. Yang dimaksud habib di sini adalah Rasulullah SAW.

Sehari setelah mendapat isyarah dari Al Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid, beliau diberitahu pamannya bahwa dirinya sudah ditunggu oleh Abuya Al Maliki di Makkah. Akhirnya berangkatlah Al Habib Sholeh meninggalkan Indonesia untuk berguru kepada Al-Imam As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Begitu sampai di Makkah Al Habib Sholeh sangat senang karena bisa bertemu dengan Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki, salah satu ulama Ahlussunnah yang sangat dihormati.

Saat bertemu gurunya itu, Abuya Al Maliki berkata kepada Al Habib Sholeh, "Aku melihat pada diri kamu ada pancaran cahaya ilmu,". Ungkapan Abuya Al Maliki ini merupakan isyarah bahwa Al Habib Sholeh dianggap mampu menerima ilmu yang akan diberikan oleh Abuya Al Maliki sekaligus menjadi penyeru ummat di kemudian hari. Sebab ada riwayat yang menyebutkan bahwa Abuya Al Maliki memiliki kemampuan membaca seseorang. Abuya Al Maliki hanya menerima murid baru berdasarkan isyarah yang beliau peroleh.

Karena tinggal di kediaman Abuya Al Maliki cukup lama, Al Habib Sholeh faham betul kepribadian agung Abuya Al Maliki. Bagi Al Habib Sholeh Abuya Al Maliki adalah guru yang sangat arif. Meskipun Abuya Al Maliki bermadzhab Maliki, kenyataannya Abuya Al Maliki juga faham Madzhab Syafi’i.

Istilah sekarang, Abuya Al Maliki sangat toleran dengan perbedaan. Selain itu, kalau ada murid yang baru datang ke Makkah, Abuya Al Maliki pasti mengajaknya ke makam Rasulullah di Masjid An Nabawi. Juga diajak ke Uhud sekaligus ditunjukkan tempat-tempat di mana Nabi duduk, dan di mana Nabi berdiri. Dengan metode ini, murid pun langsung paham.

Selama 5 tahun dalam gemblengan Abuya Al Maliki, Al Habib Sholeh sudah mengkhatamkan kurang lebih 100 kitab. Rupanya 5 tahun belajar di Abuya Al Maliki masih dianggap kurang oleh Al Habib Sholeh. Akhirnya Al Habib Sholeh menambah lagi masa belajar beliau meski beberapa sahabatnya ada yang sudah kembali ke tanah air untuk berdakwah.

Memantapkan Langkah Dakwah

Setelah menempuh pendidikan di Ribath Al Maliki selama sepuluh tahun, Al Habib Sholeh pulang ke Indonesia tahun 1988. Kemudian beliau menikah dengan putri Al Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. Al Habib Sholeh kemudian mengabdikan ilmunya mengajar di Ponpes Darul Hadits Al Faqihiyyah.

Al Habib Sholeh diwasiati oleh Abuya Al Maliki untuk menjadi penerus dakwah Rasul. "Kuunuu waratsatan nabi shallahhu 'alaihi wasallam," pesan Abuya Al Maliki. Karena itu tidak heran jika pola pengajaran dari sang guru diamalkan betul oleh Al Habib Sholeh melalui model pengajaran yang simpel tapi tepat sasaran.

Saat ini, selain menjadi pengajar di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang, beliau juga membuka majelis taklim di rumahnya, Jln. Bareng Kartini Gg. 1 No. 2, Malang yang bernama Majlis Taklim wad Dakwah Lil Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad Al Aydrus.
Aktivitas beliau memang banyak dicurahkan untuk mengajar. Pada bulan-bulan tertentu, beliau juga menyempatkan diri untuk berdakwah di berbagai daerah baik di nusantara maupun di luar negeri seperti di Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam.

Adapun materi yang disampaikan dalam tiap taklimnya, Al-Habib Sholeh Al Aydrus merujuk kitab-kitab ulama salaf, seperti dalam bab fiqih Minhajut-Thalibin, karya Imam Nawawi, Al Muhadzdzab, karya Imam Asy-Syirazi, Minhajul Qawim, karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami. Jam'ul Jawami’, karya Imam As Subki untuk ushul fiqihnya.

Sedang kitab hadits yang beliau ajarkan adalah Shahih Al Bukhari, Al Adzkar an-Nawawiyah. Untuk masalah tauhid, beliau mengajarkan kitab Jauhar at Tauhid. Adapun untuk masalah tasawuf, kitab yang beliau ajarkan ialah kitab Ihya’ Ulumiddin, kitab Bidayatul Hidayah, keduanya karya Imam Al Ghazali, kitab Ar-Risalatul Qusyairiyyah, karangan Imam Al Qusyairi, kitab dan An-Nashaih ad-Diniyyah dan beberapa kitab Al Imam Al Habib Abdullah Al-Haddad.

Pesan Abuya Al Maliki agar menjadi penerus nabi telah terbukti. Al Habib Sholeh telah menjadi tumpuan umat dalam masalah agama dan dakwah. Selain berdakwah lewat taklim, Al Habib Sholeh juga telah mengarang beberapa kitab yang dijadikan acuan dalam mengajar di banyak pondok pesantren. Lebih dari itu beberapa kitab karangan beliau juga dijadikan rujukan dalam belajar mengajar di beberapa negara seperti Makkah, Madinah, Mesir dan Yaman.

Kitab-kitab Susunan Al Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aydrus,

Dalam Bab Hadits : Lafthul Intibahat Fiima Hadzaral Ulama Minat Ta'lifaat, Tuhfatul Akhyaar Fii takhriji maa fii an Nashaih Minal Akhbar, Faidhul 'Allam Fii syarhi Arba’in Haditsan fis Salaam, Syarh At Targhiib Wat Tarhiib (dua juz)

Dalam Bab Fiqih : Assyaafiyah Fii Istilaahatil Fuqoha Asy Syafi'iyyah (dua juz), Is'aaful Muhtaj Fii Syarhil qiilaat Al Murojjahah Fiil Minhaaj, Irsyadul Haair ilaa ad'iyah wa aadabil Hajji Wal Musaafir Waz Zaair (Buku Panduan Adab dan Doa untuk Haji, Umrah dan Musafir)

Bab Tasawwuf: Al Mawaahibul Jaliyyah Fii Mukaatabaati Ahli Maqamatil Aliyyah, An Nashrul Faaih Fii Tartiibil Fawaatih

Bab Tsaqofah Islamiyyah: Al Faidhul Ilmiyyah Wal Fakahaatul Adabiyyah, I'laamul Bararah Bi Mabadi’ al ‘Asyarah, Fakkul Mughlaqat Fii bayanii al-Muradaat Mina Alqaab wa Asmaail Kutub al Muthlaqat.

Bab Tarikh : Minhaatul Ilaahil Ghaniy Fii Ba'dhi Manaaqibi Al Imam Alawy bin Abbas Al Maliki Al-Hasani, Lawaami'un Nur As Sani Fii Tarjamah Syaikhina Al Imam Muhammad bin Alwi Al Maliki Al- Hasani, Ghayatul Amani fi ba'dhi manaqibi Al Habib Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

Bab Sastra : Al Lughotul Arobiyyah Lughotul Qur'an, Al Injaaz Fii Amtsalat ahli Hijaaz, Nailul Arab Bii Muqaddimatil Khutab

Bab Nahwu : Alghaz An Nahwiyyah

Selasa, 24 Agustus 2010

Sunnah-sunnah ketika bertemu seseorang


1.     Mengucapkan salam: Rasulullah saw. Di tanya (orang) islam yang bagaimana yang paling bagus? Beliau menjawab: yang menghidangkan makanan, dan ucapkan salam bagi orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).

·         Seseorang masuk menemui Rasulullah saw. lalu mengatakan: asssalamu ‘alaikum, kemudian Rasulullah saw. menjawabnya dan duduk, kemudian beliau bersabda: sepuluh (pahala), kemudian datang lagi yang lain dan mengatakan: “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi” Rasulullah saw. pun menjawabnya kemudian duduk dan bersabda: dua puluh (pahala), kemudian datang lagi yang lain dan mengucapkan: “assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Rasulullah saw. pun menjawabnya dan duduk, kemudian Rasulullah saw. bersabda: tiga puluh (pahala).” (HR. Abu Daud dan di shahihkan oleh Imam Tirmidzi).

·         Wahai saudaraku yang di muliakan Allah Swt. perhatikan! Berapa banyak pahala yang di sia-siakan oleh orang yang hanya mengucapkan sebagian kalimat salam, tanpa menyempurnakannya secara keseluruhan sehingga  ia dapat meraih 30 pahala kebaikan, sementara satu kebaikan sebanding dengan 10 pahala kebaikan maka secara keseluruhan terkumpul 300 pahala kebaikan, dan satu kebaikan akan di tambah menjadi berlipat-lipat ganda.

·         Maka biasakanlah lidah anda wahai saudaraku yang di muliakan Allah Swt.…untuk mengucapkan lafadz salam dengan sempurna sampai pada lafadz (wa barakaatuh), sehingga anda dapat meraih pahala yang besar ini.


·         Seorang muslim akan mengucapkan salam dengan berulang-ulang kali dalam sehari semalam karena ia akan mengucapkannya ketika masuk dan keluar dari mesjid, ketika masuk dan keluar dari rumah, dan ketika bertemu dengan seseorang.

·         Saudaraku yang tercinta jangan lupa...bahwasanya termasuk dari sunnah ialah mengucapkan salam dengan sempurna bagi orang yang ingin berpisah dengan seseorang, sesuai dengan hadits: “jika kalian masuk dalam sebuah majlis maka ucapkanlah salam dan jika telah selesai (pulang) dari majlis tersebut maka ucapkanlah salam…” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
·         Jika seorang muslim senantiasa menerapkan sunnah ini (salam) di dalam kesehariannya, ia menerapkannya ketika ia masuk dan keluar dari mesjid, begitupan masuk dan keluar dari rumah, maka akan terulang sebanyak 20 kali, dan akan semakin bertambah jika ia keluar bekerja, ketika bertemu dengan seseorang di jalan  dan orang yang ia temani cerita di telphone.

2.     Senyum: Rasulullah saw. bersabda: “jangan kamu menganggap enteng hal yang baik  sedikitpun, sekalipun itu dengan menghadapkan wajahmu ke temanmu dengan wajah yang berseri”. (HR. Muslim).

3.     Berjabat  tangan: Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dari dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali Allah Swt. Akan mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum keduanya berpisah”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah).


Imam Nawawi mengatakan: berjabat tangan adalah di anjurkan setiap bertemu.

·         Saudaraku yang tercinta …. Jagalah untuk senantiasa mengucapkan salam dan berjabat tangan bagi orang yang anda temui (laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan (kecuali jika yang ia temui adalah mahramnya), serta anda menemuinya dengan wajah yang tersenyum, dengan ini anda telah menerapkan 3 sunnah sekaligus dalam satu waktu.

4.     Allah Swt. Berfirman:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar), sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Al Israa’: 53).

·         Rasulullah saw. bersabda: “perkataan yang baik adalah sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
·         Kalimat yang baik (kalimah tayyibah) mencakup: zikir, do’a, salam dan pujian yang benar, akhlak yang mulia serta adab-adab yang baik.
·         Kalimat yang baik (kalimah tayyibah) adalah suatu tanda yang terdapat di hati seorang mukmin bahwa di dalamnya terdapat cahaya dan petunjuk.
·         Renungkanlah wahai saudaraku yang di muliakan Allah swt. untuk memakmurkan hidup anda dari subuh sampai sore dengan kalimat tayyibah, karena suami atau isteri anda, anak-anak anda, tetangga anda, teman-teman anda, pembantu anda, dan orang-orang yang bergaul dengan mereka butuh dengan kalimat tayyibah (kalimat yang baik).

Senin, 23 Agustus 2010

Biografi HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Ahlan wa Sahlan wa Marhaban yaa Habibanal Al-Hafidz Al-Musnid Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidzh,
Berikut adalah sedikit dari pada manaqib Beliau:

Beliau adalah Al-Imam Al-’Arifbillah Al-Musnid Al-Hafizh Al-Mufassir Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh. Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera Dari‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad S.A.W.


Beliau terlahir di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua kakek beliau, al-Habib Salim bin Hafiz dan al-Habib Hafiz bin Abd-Allah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan
kondisi-kondisi yang sesuai bagi al-Habib ‘Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.


Beliau telah mampu menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadith, Bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin ‘Alawi bin Shihab dan al-Shaikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, al-Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dhikr. Namun secara tragis, ketika al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk sholat Jum‘ah, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang Da‘wah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid. Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk Majelis-majelis dan da’wah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al Qur’an dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.


Ia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.
Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang Mulia al-Habib Muhammad bin ‘Abd-Allah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Shafi‘i al-Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Ia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang Da‘wah.

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga
dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan sorban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah S.A.W.


Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan da‘wah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Shaikh al-Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.


Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni al-Habib Ahmed Mashur al-Haddad dan al-Habib ‘Attas al-Habashi.Sejak itulah nama al-Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan. Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru. Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman. Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan. Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah.

Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis.


Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan.

Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.


Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau.
Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara diseluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.