translate language

Jumat, 25 September 2009

Dimadu atau Cerai

DIMADU ATAU CERAI
Pengadilan Agama mengabulkan permohonan cerai yang di ajukan oleh seorang dokter, untuk menceraikan istrinya karena istrinya menolak untuk di madu, setelah perkawinan mereka berumur 17 tahun
Kasus ini berawal saat sang istri mendapat informasi kalau suaminya, telah menjalin hubungan dengan karyawannya. Singkat cerita, sang istri melakukan penyelidikan dan akhirnya bisa membuktikan kalau benar suaminya menjalin hubungan denga karyawannya tersebut.
Setelah mencari tahu kediaman WIL tersebut, sang istri kemudian mendatanginya dan menanyakan perihal tersebut ke WIL dan orang tuannya. Mereka membenarkan kalau pak
dokter memang telah menjalin hubungan dengan WIL tersebut. Kemudian hal ini disampaikan kepada sang suami oleh si istri, si suami mengaku dan akhirnya mengacukan tawaran-“ KAMU PILIH MANA, DIMADU ATAU DICERAI?”,
Sang istri dengan sedih dan berat hati memilih CERAI dari pada dimadu sekalipun ia masih mencintai suaminya, bapak dari ketiga putra- putrinya yang tengah remaja. Selama proses perceraian yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, si dokter dan
suami tetap tinggal serumah, tanpa komunikasi tanpa tegur sapa.
Bisa dibayangkan kehidupan macam apa yang di lakoni kedua insan tersebut. Keriangan di rumah selama 17 tahun sirna tanpa bekas. Anak jadi bimbang dan bingung menghadapi keriangan yang berubah menjadi kegamangan, kita hanya berharap semoga psikologi mereka tidak terganggu akibat ulah orangtua mereka, akibat ulah bapak mereka.
Proses persidangan menjadi agak lama, karena adanya pertentangan dalam pembagian harta gono-gini, harta yang didapatkan selama masa perkawinan yang mereka jalani selama 17 tahun.
Selama proses persidangan di pengadilan, si istri tetap memperlihatkan ketabahannya, meskipun sesekali ia tidak dapat menahan rasa sedih, rasa yang tak mungkin disembunyikan seorang ibu dari tiga anak. Ia harus kuat berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai istri. Ia harus kuat, karena anak-anaknya sepenuhnya bergantung ke dia, para anak begitu dekat dengan sang ibu. Para anak yang telah mulai mengerti persoalan yang di hadapi orang tuanya, memberi support kepada sang ibu. Hal ini yang membuat sang ibu harus berjuang untuk mendapatkan haknya dari harta gono-gini. Bukan untuk kepentingan dirinya semata tapi demi anak-anaknya yang kelak akan ada dalam
pengasuhannya.
Setelah melalui proses persidangan yang melelahkan, dimana si suami menghadirkan satu orang saksi dan sang istri menghadirkan dua orang saksi dipersidangan untuk menguatkan bukti masing- masing pihak di muka sidang,majelis kemudian mengeluarkan putusannya.
Majelis hakim dalam putusannya, selain memutuskan mengabulkan permohonan cerai yang di ajukan sang suami yang juga oleh si istri telah menyatakan bersedia untuk dicerai, ketiga anak di serahkan pengasuhannya kepada istri tanpa mengurangi hak suami sebagai ayah dari sang anak, serta membagi harta secara rata, kecuali 2 buah rumah yang menjadi milik si suami.
Menjadi beban bagi sang istri -karena rumah yang mereka huni selama ini harus ia tinggalkan karena suaminya berkeras agar istrinya segera meninggalkan rumah- kemana ia harus tinggal untuk merawat dan menyekolahkan anak-anaknya.
Dibalik kesedihan sang istri, ia tetap berujar “suatu saat jika suamiKU ingin kembali
padaku, saya akan menerimanya” tapi, dengan catatan bahwa suaminya sudah dalam keadaan tidak mampu lagi secara kesehatan dan terkhusus untuk biologis. Si istri bersedia merawat suaminya. SUNGGUH MULIA!
Motivasi menikah lagi Banyak faktor yang mendorong seorang suami untuk menikah lagi. Diantara faktor tersebut adalah: istri sakit, hasrat seksual yang tinggi, istri mandul, ata karena alasan-alasan khusus misalnya banyaknya jumlah wanita, sedikitnya jumlah laki- laki, menolong wanita yang sudah tua, janda, banyak anak, ataupun alasan politik demi kemaslahatan umat.
Tidak menutup kemungkinan pula, seorang suami mempunyai keinginan untuk menikah lagi karena kepribadian sang istri yang kurang (baca: tidak) berkenan di hati sang suami. Motif yang terakhir ini tidak dapat disalahkan, seorang laki-laki mencari pendamping hidup untuk memperoleh rasa nyaman, bahagia, sakinah, mawadah, dah rahmah.
Namun, yang didapatkan sang suami dalam kesehariannya bertolak belakang dari keinginannya. Ia senantiasamendapatkan ucapan dan perbuatan yang selalu menjengkelkan dan menyakitkan hatinya. Jika ini terjadi berulang kali,dan karakter buruk istri sulit diperbaiki, tidak menutup kemungkinan, sang suami mulai berpikir menikahi wanita lain untuk mendapatkan apa yang diimpikan sebelumnya. Ia akan mencari wanita yang dianggapnya lebih baik, lebih shalih, lebih bisa membuat dia
bahagia dan tenang seperti yang dia idam-idamkan.
Diantara kesalahan-kesalahan yang terkadang dilakukan seorang istri sebagai berikut:
1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron- sinetron. Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya. Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak- enak dalam sebuah perkawinan. Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda. Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami) Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya. Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
4. Lalai dalam melayani suami
5. Mubazir dan menghambur- hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
7. Keluar rumah tanpa izin suami
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi
apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak menyukai keluarga suami Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya,
terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu
mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya.
Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan
untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara. Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’.
Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih
sayang suami.
4. Tidak menjaga penampilan Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat. Jika keadaan ini terus menerusdipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah.
Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa
yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya. Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami “Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Tidak ada komentar: